Langsung ke konten utama

Kisah Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi

Pada masa Rasulullah ﷺ, terdapat seorang sahabat bernama Abdullah bin Hudzafah As-Sahmi. Ia dikenal sebagai sahabat yang tegas, pemberani, dan memiliki kepatuhan penuh kepada Allah serta Rasul-Nya.

Utusan Rasulullah kepada Kisra

Suatu ketika, Rasulullah ﷺ mengutus Abdullah bin Hudzafah untuk menyampaikan surat dakwah Islam kepada Raja Persia, Kisra (Khosrow II). Dalam surat itu, Rasulullah ﷺ menyeru Kisra agar memeluk Islam. Abdullah dengan penuh keberanian menghadap istana Kisra dan menyampaikan surat tersebut tanpa rasa gentar, meskipun ia tahu nyawanya terancam.

Kisra membaca surat itu dengan marah, lalu ia merobeknya. Abdullah tetap berdiri teguh dan kembali dengan membawa berita itu kepada Rasulullah ﷺ. Nabi pun bersabda:
"Semoga Allah merobek-robek kerajaannya sebagaimana ia merobek suratku."
Dan benar, tidak lama kemudian kerajaan Persia runtuh.

Tawanan di Romawi

Pada masa kekhalifahan Umar bin Khattab, Abdullah bersama beberapa sahabat ikut dalam ekspedisi perang melawan Romawi. Dalam peperangan itu, ia tertawan oleh tentara Romawi dan dibawa ke hadapan Kaisar Romawi.

Kaisar melihat keteguhan Abdullah lalu mencoba membujuknya agar meninggalkan Islam dan masuk ke agama Nasrani. Ia menjanjikan harta, pangkat, bahkan menikahkannya dengan putrinya. Namun Abdullah menolak tegas dan berkata:
"Seandainya engkau memberikan seluruh kerajaanmu dan seluruh kerajaan Arab kepadaku agar aku meninggalkan agama Muhammad sekejap mata, aku tidak akan menerimanya."

Kaisar pun marah. Ia lalu menyiksa Abdullah dengan cara mengikatnya dan mendekatkannya ke periuk besar berisi minyak mendidih. Beberapa tawanan lain dilemparkan ke dalamnya hingga tubuh mereka hancur lebur. Abdullah menatap kejadian itu dengan tenang, meski hatinya bergetar.

Ketika gilirannya hampir tiba, Abdullah menangis. Kaisar menyangka ia takut, lalu bertanya:
"Mengapa engkau menangis, apakah engkau takut mati?"

Abdullah menjawab:
"Tidak, aku menangis karena aku hanya memiliki satu nyawa yang akan hilang di jalan Allah. Andai saja aku punya seratus nyawa, aku akan ingin semuanya dikorbankan di jalan-Nya."

Kaisar pun terdiam mendengar keteguhan imannya.

Ujian Penciuman

Tidak berhenti sampai di situ, Kaisar menguji lagi Abdullah dengan cara lain. Ia memasukkan Abdullah ke dalam penjara, menaruh makanan lezat dan arak di depannya. Abdullah tidak menyentuhnya sama sekali. Ia bertahan dengan lapar hanya demi menjaga ketaatan.

Kaisar kemudian mengutus seorang wanita cantik untuk menggoda Abdullah. Namun Abdullah menolak dan berkata kepada wanita itu:
"Aku lebih takut kepada Allah daripada melakukan perbuatan ini."
Wanita itu akhirnya keluar sambil berkata kepada Kaisar:
"Engkau mengutusku kepada seorang lelaki yang tidak membutuhkan dunia sama sekali."

Perlakuan Kaisar

Melihat keteguhan itu, Kaisar berkata:
"Ciumlah kepalaku, maka aku akan membebaskanmu."

Abdullah bertanya:
"Apakah hanya aku saja yang dibebaskan?"

Kaisar menjawab:
"Ya, hanya engkau."

Abdullah berkata:
"Aku tidak mau."

Kaisar lalu menambahkan:
"Kalau begitu, ciumlah kepalaku dan aku akan membebaskanmu beserta semua tawanan Muslim bersamamu."

Abdullah pun berpikir, menyelamatkan dirinya saja adalah kemuliaan, apalagi menyelamatkan seluruh tawanan Muslim. Akhirnya ia berkata:
"Baik, aku akan melakukannya."

Ia pun mencium kepala Kaisar, dan benar, seluruh tawanan Muslim dibebaskan.

Balik ke Madinah

Setibanya di Madinah, Abdullah menceritakan peristiwa itu kepada Umar bin Khattab. Umar sangat terharu mendengar kisah tersebut. Sebagai bentuk penghargaan, Umar berkata di hadapan kaum Muslimin:
"Setiap Muslim berhak mencium kepala Abdullah bin Hudzafah, dan aku yang akan memulai."

Lalu Umar pun maju dan mencium kepala Abdullah. Maka para sahabat lainnya mengikuti.

Referensi 

  1. Ibnu KatsirAl-Bidāyah wa an-Nihāyah, jilid 7, hal. 98–101
    → Ibnu Katsir meriwayatkan kisah Abdullah saat ditawan Romawi dan bagaimana ia mencium kepala Kaisar untuk membebaskan tawanan Muslim.

  2. Ibnu Hajar al-‘AsqalaniAl-Iṣābah fī Tamyīz al-Ṣaḥābah, jilid 4, hal. 66–67
    → Menyebutkan biografi Abdullah bin Hudzafah, termasuk peristiwa utusannya kepada Kisra dan penawanan di Romawi.

  3. Imam adh-DzahabiSiyar A‘lām an-Nubalā’, jilid 2, hal. 14–20
    → Adh-Dzahabi menuliskan detail kisahnya dengan keterangan sanad.

  4. Abu Nu‘aim al-AshbahaniMa‘rifat ash-Ṣaḥābah, no. 4268
    → Mencatat riwayat kisah Abdullah dengan berbagai jalur.

  5. Al-BaghawiMu‘jam ash-Ṣaḥābah, jilid 4, hal. 96–97
    → Mencatat peristiwa utusan kepada Kisra.

Komentar